Cari

B A L E P E G A T

Bale pegat yang berada di pura memiliki makna sebagai pemutus, Mulai titik ini, pengunjung diminta untuk memutuskan hubungan dengan kehidupan kebendaan atau keduniawian.

Bale ini bentuknya unik, tampak seperti dua buah bale dengan atap yang yang menyatu.

Versi lain; Pertama dibuat, seperti diceritakan dalam babad warga Tutuan, sebagai lambang perpisahan, putusnya hubungan yang sudah sekian lama.


Sumber lain mengatakan ;

Bale pegat, biasanya berukuran lebih besar dan bisa di pakai tempat tinggal, yang pada umumnya berada di sebelah barat rumah kuno di bali..

gunanya untuk memutus ikatan sang jiwa terhadap segala ciptaan yg mengikatnya untuk menjadi murni dan kemudian lahir kembali untuk mencipta lagi (reinkarnasi)

Dan Bentuk-bentuk lain dari "bale"


Bale

rumah, balai-balai, bangunan seperti rumah.


Bale agung

bangunan panjang bertiang dua belas atau lebih.


Bale bandung

bangunan bertiang dua belas berisi jalur-jalur dan hiasan-hiasan di atas tiang-tiangnya.


Bale banjar

bangunan rumah tempat pertemuan umum bagi warga desa.


Bale bunder

balai atau bangunan persegi enam.


Bale gede

bangunan yg terletak di bagian selatan atau timur pekarangan rumah, bertiang dua belas, berdinding tembok di bagian selatan dan timur.


Bale gong

bangunan yang terletak di jaba tengah atau jaba sisi pada sebuah pura yang berfungsi sebagai tempat menabuh gong dan gamelan.


Bale kambang

bangunan bertiang 28, didirikan pada gundukan tanah yang dikelilingi kolam sebagai balai sidang raja, para pendeta, serta pejabat istana.


Bale kembar

bangunan memanjang dan berjajar masing-masing bertiang delapan.


Bale lantang

sebuah bangunan dewan suci; dibangun di atas fondasi batu bata dan berorientasi secara longitudinal pada poros menanjak-menurun; di sana diadakan pertemuan dewan desa yang berlangsung setiap bulan baru dan purnama, kepala rumah tangga berkumpul dan mengambil tempat mereka di dalam bale lantang sesuai urutan status sosial yang ketat, yang mengharuskan mereka untuk duduk dalam dua baris paralel sesuai urutan senioritas mereka; anggota paling senior selalu berada di ujung menanjak (kaja/utara) pada sisi kangin/timur (matahari terbit), bangunan panjang bertiang dua belas atau lebih.


Bale majalila

bangunan tempat bersemayam Ratu Majalila di Besakih.


Bale mandapa

bangunan pokok bertiang dua belas, umumnya digunakan sebagai tempat musyawarah.


Bale manguntur

bangunan bertiang delapan belas menghadap ke selatan tempat bersemayam dewa-dewa pada waktu upacara Batara Turun Kabéh.


Bale mujur

bangunan bertiang dua belas, didirikan di bagian barat pekarangan rumah, sebagai tempat menerima tamu.


Bale mundak

rumah bertiang enam (tempatnya di bagian selatan pekarangan rumah).


Bale murda

bangunan persegi empat bertiang sebelas untuk tempat upacara adat di puri (istana raja).


Bale ongkara

bangunan persegi empat bertiang satu, beratap ijuk di kiri kanan kori agung (Besakih), disebut juga Balé Mundar-Mandir.


Bale pagambuhan

bangunan memanjang bertiang dua belas tempat pementasan gambuh, biasa terdapat di halaman tengah puri.


Bale pamaksan

tempat yang terletak di jaba sisi rumah, digunakan untuk mengadakan pertemuan antarkeluarga dl satu ikatan sanggah (pura keluarga) dan juga dapat difungsikan sebagai tempat musyawarah.


Bale paselang

bangunan rumah persegi empat bertiang delapan, sebagai tempat upacara di Pura Besakih.


Bale pawedan

bangunan bertiang empat yang digunakan sebagai tempat duduk pendeta melakukan pemujaan saat memimpin upacara ritual keagamaan.


Bale pelik

bangunan rumah persegi empat berukuran kecil bertiang empat sebaga pengapit pelinggih atau tugu di pura-pura.


Bale piyasan

sebuah bangunan di sanggah (pura keluarga) atau pura sebagai tempat sarana upacara.


Bale rum

rumah tempat permaisuri.


Bale sakutus

(balé sakutus/saka kutus) - bangunan rumah bertiang delapan, biasanya dipakai tempat tidur.


Bale salunglung

bangunan kecil segi empat bertiang tiga untuk tempat perlengkapan pembakaran mayat.


Bale sari

bangunan bertiang sembilan letaknya di bagian barat pekarangan rumah, biasa disebut balé singasari.


Bale sumangkirang

balai bertiang dua belas beratap ijuk, dahulu digunakan oleh raja-raja untuk upacara, sekarang sebagai tempat sajen di Besakih, disebut juga balé kembang sirang.


Bale tegeh

bangunan tinggi di pojok halaman istana atau pura.


Bale timbang

balai bertiang dua di sawah atau di balé banjar, tempat menimbang padi.


Bale wongkilas

bangunan segi empat panjang, bertiang enam dengan rangkaian rusuk dibuat sedemikian rupa sehingga tampak seakan-akan tidak memiliki sambungan.


Bale-bale