Cari

Makna dan pengettian banten PEJATI

Om swastiastu


Dalam situasi polemik yang beredar di media tentang berkeyakinan beragama atau cara menuju kedamaian. (sang hyang tunggal) Ada kalanya kita lebih belajar kedalam tentang adat budaya agama hindu, agar kita lebih mengetahui makna dan manfaatnya, banten pejati yang memiliki peran penting dalam setiap upacara keagamaan, dari tingkat nista sampai tingkat yang paling utama..


Semoga bermanfaat

Ampura, mimin juga belajar dari sumber yang sudah ada, kalau ada tambahan, bisa di sampaikan dikolom komentar ngih ūüôŹ


Di pulau Bali  yang mayoritas warganya adalah umat Hindu, yang mana adat,budaya dan ajaran agama sangat erat,saling berkaitan dan saling melengkapi. Sehingga bisa dikatakan adat,budaya dan agama menjadi satu kesatuan.


Khusunya di Bali sendiri dikenal ada yang namanya Banten.  Banten adalah persembahan dan sarana bagi umat Hindu mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Kuasa.  Banten juga merupakan wujud rasa terima kasih, cinta dan bakti pada beliau karena telah dilimpahi wara nugraha-Nya. Secara mendasar  dalam agama Hindu, banten juga dapat dikatakan sebagai bahasa agama.


Pengertian Banten Pejati


Pejati berasal bahasa Bali, dari kata¬†‚Äújati‚Ä̬†mendapat awalan¬†‚Äúpa-‚Äú.¬†Jati¬†berarti sungguh-sungguh, benar-benar.


Banten Pejati¬†sering juga disebut ‚ÄúBanten Peras Daksina‚ÄĚ. ¬†Banten Pejati adalah sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara dan mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan. Banten pejati merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Panca Yadnya.


Unsur dan Makna Banten Pejati


Pada Banten Pejati terdapat empat unsur utama yang disebut Catur Loka Phala, yaitu terdiri dari; Daksina, Banten Peras, Penyeneng/Tehenan/Pabuat, Tipat/Ketupat Kelanan.

Selain itu, di dalam banten Pejati juga terdapat; Soda/Ajuman, Pasucian, dan Segehan, beserta sarana-sarana pelengkap lainnya. Makna dari setiap unsur banten pejati, yaitu sebagai berikut:


1. Daksina


Daksina disebut Juga ‚ÄúYadnyaPatni‚ÄĚ yang artinya istri atau sakti daipada yadnya. Daksina juga dipergunakan sebagai mana persembahan atau tanda terima kasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. Dalam¬†lontar Yadnya Prakertidisebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru / Hyang Tunggal kedua nama tersebut adalah nama lain dari Dewa Siwa.


2. Banten Peras


Kata ‚ÄúPeras‚ÄĚ dapat diartikan ‚Äúsah‚ÄĚ atau¬†resmi, seperti kata: ‚Äúmeras anak‚ÄĚ mengesahkan anak, ‚ÄúBanten pemerasan‚ÄĚ, yang dimaksud adalah sesajen untuk mengesahkan anak/cucu; dan bila suatu kumpulan sesajen tidak dilengkapi dengan peras, akan dikatakan penyelenggaraan upacaranya ‚Äútan perasida‚ÄĚ, yang dapat diartikan ‚Äútidak sah‚ÄĚ, oleh karena itu banten peras selalu menyertai sesajen-sesajen yang lain terutama yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Pada prinsipnya memiliki fungsi sebagai permohonan agar semua kegiatan tersebut sukses (prasidha)


Banten Peras¬†ini boleh dikatakan tidak pernah dipergunakan tersendiri, tetapi menyertai banten-banten yang lain seperti: daksina, suci, tulang-sesayut dan lain-lainnya. Dalam beberapa hal, pada alasnya dilengkapi dengan sedikit beras dan benang putih. Untuk menunjukkan upacara telah selesai, maka seseorang (umumnya pimpinan upacara) akan menarik lekukan pada ‚Äúkulit-peras‚ÄĚ, dan menaburkan beras yang ada dibawahnya. Pada¬†Lontar Yajna-prakerti¬†disebut bahwa peras melambangkan¬†Hyang Tri Guna-Sakti.


3. Penyeneng/Tehenan/Pabuat


Jenis jejaitan yang di dalamnya beruang tiga masing-masing berisi beras, benang, uang, nasi aon (nasi dicampur abu gosok) dan porosan, adalah jejahitan yang berfungsi sebagai alat untuk menuntun, menurunkan Prabhawa Hyang Widhi, agar Beliau berkenan hadir dalam upacara yang diselenggarakan. Panyeneng dibuat dengan tujuan untuk membangun hidup yang seimbang sejak dari baru lahir hingga meninggal.


Yang membentuk Penyeneng:


Ruang 1, berisi Nasi segau yaitu nasi dicampur dengan abu/aon adalah lambang dari dewa Brahma sebagai pencipta alam semesta ini dan merupakan sarana untuk menghilangkan semua kotoran (dasa mala).


Ruang 2 berisi porosan, plawa dan bunga lambang dari dewa Visnu yang memelihara alam semesta ini,


Ruang 3 berisi tepung tawar, bunga, daun kayu sakti (dapdap), yang ditumbuk dengan kunir, beras dan air cendana melambangkan dewa Siva dalam prabhawaNya sebaga Isvara dan Mahadeva yang senantiasa mengarahkan manusia dari yang tidak baik menuju benar, meniadakan (pralina) Adharma dan kembali ke jalan Dharma.


4. Tipat/Ketupat Kelanan


Ketupat Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebajikan senantiasa meliputi kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan meyelimuti manusia.


5. Soda/Ajuman


Ajuman disebut juga soda (sodaan) dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina, suci dan lain-lain. Bila ditujukan kehadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari nasi kuning, disebut ‚Äúperangkat atau perayun‚ÄĚ yaitu jajan serta buah-buahannya di alasi tersendiri, demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi ceper / ituk-ituk, diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya diisi sebuah canang pesucian, canang burat wangi atau yang lain.


6. Pasucian


Secara umum pesucian dapat dikatakan sebagai alat-alat yang dipakai untuk menyucikan Ida Bhatara dalam suatu upacara keagamaan. Secara instrinsik mengandung makana filosofis bahwa sebagai manusia harus senantiasa menjaga kebersihan phisik dan kesucian rohani (cipta , rasa dan karsa), karena Hyang Widhi itu maha suci maka hanya dengan kesucian manusia dapat mendekati dan menerima karunia Beliau.


7. Segehan


Segehan artinya¬†‚ÄúSuguh‚Ä̬†(menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).


Penerima Banten Pejati


Banten Pejati dihaturkan kepada Sang Hyang Catur Loka Phala. Secara lebih detail sebagai berikut:


Peras : kepada Sang Hyang Iswara


Daksina : kepada Sang Hyang Brahma


Ketupak Kelanan : kepada Sang Hyang Wisnu


Soda/Ajuman : kepada Sang Hyang Mahadewa


 

(sumber:rangkuman dari berbagai sumber)

Via : informasiseputarbali



Admin: halopejati.com



0 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Ucapan adalah Doa

Bagaigar bisa beUcapan rsyukur. Di Masyarakat terdapat sebuah kepercayaan, Ucapanmu adalah Doa. Ternyata menurut Hindu hal tersebut benar adanya. Dalam Kitab Suci Hindu. Sarasamusccaya Sloka 118 dijel

¬©2018 by  halopejati.com I Pemilik : ARYA NUGRAHA