Cari

Memaknai Upacara pewetonan dan napak sithi saat usia bayi 210 hari (enam bulan)

Pewetenonan dan upacara turun ketanah disebut juga napak sithi, acara ini merupakan kelanjutan dari upacara tiga bulanan, upacara ini tepat dilaksanakan setelah bayi berusia 210 hari..



Otonan pertama kali dilakukan setelah bayi berusia 105 hari (tiga bulanan) karena organ tubuh dianggap sudah sempurna dan semua panca indra sudah aktif, dimana panca indra anak tersebut bisa membawa dampak positif dan negatif pada kesucian jiwa sehingga harus dilakukan otonan..


Jika belum dilakukan otonan atau diupacarai tiga bulanan, maka sibayi atau anak tersebut masih cuntaka atau belum suci..


Otonan memiliki dua sudut pandang.

Sudut pandang sekala (duniawi) dan sudut pandang filsafat agama,

Jika sudut pandang dari sudut pandang duniawi seorang bayi boleh menginjakkan tanah setelah bayi berusia enam bulan, bayi tersebut dianggap belum sepenuhnya dapat beradaptasi dengan alamnya, sehingga belum sepenuhnya mendapat kekebalan pada tubuhnya..


Jika dilihat dari sudut pandang filsafat agama, pelaksanaan pewetonan dan napak sithi menggunakan pedoman angka 210 hari, angka tersebut merupakan pentunjuk angka samkhya, sebagai dasar tattwa, dengan menjumlah angka tersebut didapat angka tiga, merupakan simbol mulai aktifnya tri pramana

(bayu, sabda ,idep )dimana bayi mulai mendapat rangsangan dari luar, sehingga dalam keadaan demikian dimohonkan kehadapan sang hyang widhi melalui pelaksanaan pewetonan atau napak sithi..


Jika dilihat dari kata enam bulan, terdapat angka 6 yang mengandung makna sebagai simbol sad ripu, dengan adanya sifat sad ripu yang dibawa bayi sejak lahir, maka upacara otonan atau napak sithi harus dilaksanakan agar dapat meminimalisir kekuatan sad ripu yang ada dalam diri sang bayi ..


Sarana upacaranya pun banyak, antara lain, menggunakan

- Rerajahan bedawang nala yang merupakan simbol kekuatan pertiwi yang tak lain adalah pijakan semua makhluk hidup dibumi,

- Sangkar ayam merupakan simbol akasa untuk memberi kehidupan pada alam semesta.

- Yuyu ikan nyalian dan udang merupakan simbol tripramana,

- Pane dan air merupakan simbol angga sarira dan pikiran manusia.

- Megogo-gogoan merupakan cerminan permohonan kehadapan sanghyang widhi agar di anugrahkan kesempurnaan tripramana..


Kusus untuk ritual ini yang memangku sang bayi harus seorang anak yang belum meketus atau giginya belum tanggal, karena diyakini memiliki sifat dewata dan pikiran yang bersih..


Dalam menentukan hari otonan yang menjadi patokan adalah sistem kalender saka bali, yang mana dalam pergantian hari atau tanggal adalah ketika matahari terbit..



Sumber : dikutip dari media baliexpress

🎥 Fb: @gusde kaber

Venue : griya muncan gunung biau karangasem



Admin : halopejati.com


12 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Pentingnya Pelinggih Taksu di Merajan Pelinggih Taksu merupakan salah satu pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan . Sanggah Pemerajan dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.

Secara makna Hari Penyajaan, Artinya hari ini umat mengadakan Tapa untuk mencapai Samadhi melalui pemujaan kepada Ista Dewata. Hal ini sesuai dengan apa yang tertuang dalam lontar Sundarigama disebutk