Cari

"Mengapa Orang Bali memasang Sesuuk"

Om swastiastu

Ngiring Druwenang Sareng...


Tradisi

"Dinas kala paksa"

Mengapa orang bali memasang "Sesuwuk"


Hari ini jumat ( 20/4/19 ) kalemder Bali menandainya sebagai sukra Wage wuku Wayang, Secara tradisi, orang Bali menyebutnya sebagai dina atau hari kala paksa atau dina Ala Paksa. Di beberapa tempat sering pula disebut sebagai hari Pemagpag Kala. Pada hari ini biasanya orang bali akan memasang sesuuk (semacam penanda) disetiap pelinggih atau bangunan suci dan lebuh.

(pintu masuk rumah) Mengapa???


Orang Bali meyakini, dina kala paksa, sehari sebelum tumpek wayang, sebagai hari yang tenget (angker) atau leteh (kotor).

Hari ini dipercaya sebagai puncakkekotoran dunia

(rahina cemer)


Lontar Sundarigam, sebagaimana dikutip IBP sudarsana dalam buku acara agama hindu, menyebut saat dina kala paksa, umat semestinya memepersembahkan sesaji khusus sebagai simbol menetralisir kekuatan buruk, Salah satu persembahan yang khas di hari kala paksa, yakni sesuuk berupa daun pandan berduri itu biasanya di potong-potong sekitar 5cm lalu di olesi kapur sirih dengan tanda tapak dara (tanda silang)


Selain dipasang di setiap pelinggih ,sesuuk juga diletakkan di dalam sebuah sidi (nyiru) disertai benang tridatu. Pada nyiru itu juga di isi takir diisi triketuka (mesui,kesuna,dan jangu) dan canang sari.

Selain itu dilengkapi juga dengan api dakep. Api yang dihasilkan dari sabut kelapa yg disilangkan.

Di akhir upacara, sesaji ini dihaturkan di bawah atau tanah didepan pintu masuk (lebuh).

Ada juga yang membuangnya ditempat pembuangan sampah.

Dan Ritual ini biasanya dilaksanakan pada pagi hari.


Tak hanya itu,pada dada masing-masing umat juga disi tanda tapak dara menggunakan kapur sirih. Sesaji ini, menurut IBP sudarsana sebagai simbol penetralisir kekuatan buruk pada dina kalapaksa.


Doa yang dilantunkan selama prosesi ritual ini, Memohon keselamatan agar energi Buruk menjelma menjadi energi Baik sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan bagi umat manusia.

Orang-orang awam biasanya menyatakan ritual khusus pada hari dina kala paksa sebagai pembentuk pengaharapan agar manusia tidak dimangsa kala.


"Dina kala paksa sehari sebelum menjelang tumpek wayang, hari puncak betara kala. Kalau tidak waspada, kita bisa tadah kala.( Dimangsa kala)


Selain memasang sesuuk, orang bali biasanya berpantang terhadap aktivitas pada hari dina kala paksa. Seperti tidak berkeramas, para sulinggih ( pendeta) juga pantang memuja pada hari dina kala paksa..


Semoga ini bisa menjadi bahan diskusi bagi para sahabat halopejati, mungkin saja ada sima atau tradisi yang berbeda di masing2 daerah..

Sehingga postingan ini bermanfaat dan menambah tentang dina kala paksa atau dina sehari tumpek wayang.


Salam berbagi



Sumber dan foto :balisaja.com


Admin: halopejati.com



99 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Jerimpen

Banten Jerimpen Ada Agama Hindu, ada juga sarana baktinya sebagai alat yang dipakai menghormati  dan mengakui keberadaanNya. Dalam hal ini khususnya warga Hindu tanah Bali memiliki suatu jenis kebuday

Tradisi Bali diKesiman

RAHAJENG SIANG sahabat halopejati KUNYIT, ENDONGAN, KELADI ( ngejengit, pang ngelendong, pang dadi ) Sebuah simbol dari tanaman yang memiliki arti dan harapan agar mereka yang menikah segera memiliki

©2018 by  halopejati.com I Pemilik : ARYA NUGRAHA