Cari

TRADISI MEPETIK PADA BAYI Dari Alam Spirit Menuju Alam Material.

TRADISI MEPETIK PADA BAYI Dari Alam Spirit Menuju Alam Material.

Mekutang bok merupakan bentuk pengharmonisasian ketika sifat Sang Hyang Widhi Wasa pada diri manusia mulai memasuki alam material. Dalam kata lain, kelahiran manusia sesungguhnya mengalami proses degradasi, dari alam spirit menuju alam material. Ketika manusia memasuki alam material, maka Sang Hyang Atman menjadi ternoda di dalamnya. Supaya alam spiritual dan material pada mikrokosmos (angga sasira) menjadi harmoni, adalah melalui ritual mekutang bok, salah satu prosesi upacara yang harus dilalui oleh seorang bayi, yakni upacara yang menandakan jika si bayi telah mengalami proses peningkatan, dan telah terbebas dari mala (kotor) yang diakibatkan karena proses kelahirannya ke dunia. Mepetik rambut punike kasuksmannyane nyuciang Siwadwara nak alit mangde ten papa petaka : ngawit saking tengen: niasa lara, roga, wigna. kiwa : niasa gering,sasab,,merana. ungkur :niasa gegodan musuh. tengah :niasa sebel kandel. Upacara Mepetik yang dirangkaikan dengan natab Otonan ini di lakukan ring Griya bajing klungkung . Beberapa rambut yang telah digunting, dimasukkan ke dalam kojong blayad, lalu dihanyutkan di pantai atau sungai dengan sarana canang, kwangen dan segehan, sumber lain mengatakan ada juga dipendam di belakang pelinggih ibu.. Apa makna dibalik semua itu???? Sampai hari ini, tak satupun dari para orang tua kami yang mewarisi tradisi ini, bisa menjelaskannya... Mohon jika sahabat halopejati ada yang mengetahui atau ada sumber yang mengatakan makna diatas.. boleh ditambahkan dikolom komentar ngih...🙏 Ampura yening wenten perbedaan prosesi mepetik dalam kutipan diatas, kembali malih ke desa mewicara utawi desa kalapatra .. Dikutip dari berbagai sumber 🎥 : @gus arya Admin : halopejati.com

15 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Pagerwesi adalah hari raya yang dilaksanakan atas anugrah kesentosaan dan kemajuan yang telah dicapai oleh umat manusia yang dirayakan pada Budha Kliwon wuku Shinta. Pagerwesi itu sendiri melambangkan